Rabu, 04 Februari 2009

RASA TAK BERNAMA III

Kemarin, perempuan dan pria tersebut menjalani hari dengan senyum. Dunia terasa milik berdua, yang lain ngontrak! Begitu kata orang. Namun tak jadi soal. Toh, tak menganggu orang lain. Sepanjang hari, perempuan tersenyum lebar dan tertawa riang. Bahagianya dunia ini! Lain hal yang dialami oleh teman lawan jenisnya. Ia tampak tak begitu riang atau mungkin ia menutup rasa riang tersebut. Pura-pura cuek, tak peduli padahal hati begitu senangnya.

Menjelang malam, rasa lelah menghantui dan kian mengajak fisik ini untuk istirahat. Dan entah mengapa rasa bahagia itu terkikis oleh waktu, ruang dan rasa lelah yang mengerubungi. Hingga terjadi banting haluan. Dari bahagia menjadi emosi. Cincin perak milik perempuan yang berada di jari manis sebelah kiri sang pria dibuangnya sambil berujar kata makian.

MUAK. Itulah kata makian pertama yang berujar dari lidahnya. Seseorang yang jarang marah-bisa dibilang tak pernah marah- pertama kali mengeluarkan kata tersebut. Sangat menohok. Bukan dengan silet tapi langsung dengan pedang. Layaknya seorang samurai yang sakit hati terhadap kekasihnya, langsung menghunuskan pedang tepat pada sasaran yaitu jantung. Dan seketika itu pula, semua rasa menjadi satu, berkecamuk, tak tentu arah. Antara linangan air mata, emosi dan ego.

Ia, sesosok pria berkaus coklat tersebut, semakin menghilang dari pandangan. Perlahan menjauh pergi. Ingin sekali perempuan berteriak memanggil namanya. Atau pergi berlari menghampirinya, mengenggam jemari-jemarinya dan berkata jangan pergi dan maaf. Namun, itu semua tercekat di tenggorokan dan ia kian menjauh. Dan perempuan hanya bisa melihatnya melangkah pergi. Sampai bayangannya pun menghilang.

Andai detik itu juga, waktu bisa diberhentikan, andai ia berhenti melangkah dan berbalik kepada perempuan, tentu saja beribu rasa sesal tak menghampiri. Entah siapa yang salah atau apa yang salah. Hingga menyebabkan menjadi seperti ini.

Harapan menjadi kosong seketika. Karena emosi sesaat. Akankah harapan tersebut terisi kembali? Memandang senja berdua, membicarakan hari esok apa yang akan dilakukan atau mendiskusikan hal-hal yang tidak penting bersama segelas kopi. Bercengkrama dalam waktu, selama 5 hari dalam seminggu, 10 jam dalam 24 jam dan ribuan menit lainnya. Isilah kembali harap ini, Cinta! Namun, yang jelas rasa ini tak sesempurna seperti awal. Bisa diperbaiki walau luka masih saja terasa. Atau biarkan saja waktu yang mengobati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar