Seorang gadis matanya terlihat sedih. Mungkin hatinya terasa teriris–iris layaknya jarum. Aku tahu kristal bening itu akan segera menuruni lembah pipi yang merona. Dan cahaya kristal bening itu pun berkilau. Aku memandangnya. Tak tahukah kamu bagaimana seseorang yang berada dalam posisi seperti itu?
Langkah gadis itu gontai dan penuh percaya diri. Selangkah demi selangkah maju ke muka kelas. Membawa secarik kertas story telling. Ia tersenyum kecil. Tetapi entah mengapa makhluk Adam dan Hawa di ruangan ini seakan–akan meributkan sesuatu. Sesuatu yang makhluk itu pun tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Lalu kenapa gadis itu harus merasakan hal seperti itu. Apa aku harus menyebutkan dengan kata kasihan? Wahai, gadis usaplah kesedihanmu. Lihatlah dunia ini dengan tangan terbuka dan tatapan yang pasti. Gapailah semua yang kau inginkan. Aku ada disini. Rasanya ingin ku rangkul semua kesedihanmu.
Seseorang wanita berkata, “Pikirkan dan rasakan bagaimana perasaanmu apabila di acuhkan di depan kelas?” Sungguh menyedihkan bukan? Terus, mengapa kita tidak mempelajari bagaimana cara menghargai orang. Karena dengan cara itu pun kita dapat menghargai diri sendiri. Yang kadang dalam diri kita sendiri pun masih tak mengerti bagaimana caranya.
Bulan lalu gadis itu berulang tahun yang ke–17. Pada usia ini sebagai anak remaja pastilah di kelilingi oleh teman- teman satu suka maupun duka. Tetapi seperti biasa gadis itu hanya diam tak memberitahukan bahwa ia berulang tahun. Dan tak ada seorang pun dalam kelas ini yang mengucapkan happy birthday. Sampai saat aku sadari ia berulang tahun. Ku lihat dalam wajahnya ia tampak gembira saat aku dan teman- teman mengucapkannya. Seandainya aku mengetahuinya sedari awal mungkin aku akan memberikan surprise kepadanya yang dapat membuat hatinya gembira. Mengapa tidak?
Makhluk–makhluk planet dalam ruangan ini kadang kala tak mengerti bagimana perasaan gadis itu. Mereka hanya sibuk dengan gossip yang beredar di kalangan artis, membicarakan hal–hal yang tak berguna hanya untuk kesenangan belaka. Gadis itu hanya diam tak bersua. Mungkan dalam satu hari ia hanya beberapa kali mengeluarkan kata–kata. Bukannya ia bisu atau malas berbicara tetapi kurasa tak ada seorang pun yang mengajaknya untuk bercakap–cakap, sekedar ngobrol, ataupun hanya sekedar say hello pada pagi hari atau saat bubar pelajaran sekolah.
Sering kali ku lihat rona matanya sayu–sayu seperti akan menangis. Tak ada seorang pun yang mendekatinya untuk menanyakan ada apa denganmu. Tetapi aku yakin ia hanya menginginkan mempunyai teman yang selalu ada di sisinya dalam suka atau duka. Wahai kawan, saat satu dua atau tiga uluran tangan yang ingin merangkulmu dan pundak yang siap untuk berbagi beban denganmu, janganlah ragu. Saat ada sepasang telinga atau pun beribu telinga yang siap mendengarkan keluh kesahmu, janganlah ragu. Karena mereka ingin menjadi temanmu yang benar–benar ingin selalu berada di sampingmu. Jangan hanya pasrah terhadap keadaan tetapi merubah keadaan itu lebih baik karena itulah serunya dari kehidupan yang fana ini. Terima kasih
Jakarta, 2 Juni 2005
From originall story part of my life. Usually a simple story that a exciting story. Trust me, okey?!!!
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 26 Januari 2009
Minggu, 25 Januari 2009
MERAH SAMA DENGAN MATI
Aku memandangi selembar kartu nama. Terus kupandang sampai tanganku terasa gemetar dan keringat dingin mulai membanjiri. Gigi-gigi depanku mengigiti bibir dengan geram. Aku tak kuasa dalam ketakberdayaanku. Aku mengenggam erat kartu nama tersebut, meremasnya sampai lecek. Tulisannya pun kian tak terlihat oleh mata. Aku membuka genggaman eratku dan membaca kembali tulisannya yang telah kubaca berulang-ulang kali sebelum mencapai tempat ini.
Klinik Jiwa, Ane Syaihuna, M.P, Si
Jl. Sumatera Barat No. 20
Jakarta Timur
021- 780 567 324
Lembaran kartu nama itu masih kugenggam erat. Sekali lagi aku meremas-remasnya sampai tak terlihat bentuknya. Aku mengernyitkan alis, rasanya pusing sekali. Aku memijit-mijit kening kepalaku dan menyadarkan bahu ini kepada pundak kursi. Kedua kelopak mata ini berontak ingin memejamkan mata. Ufff, God… aku tak segila ini sampai harus kemari. Akal sehatku mulai mengeluh, mencoba memberikan pembelaan diri terhadap alam bawah sadarku.
Kalau merasa tak gila kenapa selama ini seperti orang gila? Tak bisa membedakan antara alam realitas dan alam metafisik? Kemana akal sehatmu? Kau selalu membuat pembelaan diri padahal dirimulah yang SAKIT!!! SAKIT dan HARUS BEROBAT! Terima kenyataan itu sobat!!!
Alam bawah sadarku kian membuat runtutan pertanyaan, membuat diriku terasa kalah. Skak Mat. Mati rasa dalam seketika. Tambah satu poin lagi yang disebutkan oleh alam tak sadarku.
Kata terakhir yang membuatku tersentak hebat adalah kata SOBAT. Sobat dari semua kegilaan ini. Aku tersenyum tipis, menertawakan diriku ini. Sejak kapan aku telah menjadi sobatnya. Sejak kapan???
Air mata semakin tak terelakkan, keluar tanpa permisi. Aku kian terhenyak dengan semua kegilaan ini dan kata Sobat. Aku merasa sendiri, tak punya siapa-siapa dan tak ada volunteer yang mau menemaniku. Sepi.
Aku menutup wajahku dengan telapak tangan. Aku akan kalap. Tidak! Tidak boleh kalap apalagi di tempat seperti ini. Seketika aku teringat akan kejadian semalam, obrolan kecil dengan sahabatku yang pada akhirnya ia kekeuh memaksaku harus ke tempat seperti ini.
“Ran, elo harus ke tempat ini. Ke psikiater. Jangan khawatir tentang dokternya. Dia kenalan bokap gue. Bisa dipercaya! Gue jamin, Ran! Pokoknya elo HARUS KESANA!!! HARUS!!!!”
Aku masih terdiam seribu bahasa lisan dan tubuh. Masih hanyut dalam pikiran alam bawah sadarku. Seketika ia mengagetkanku dengan ultimatum yang bagaikan perintah bagiku. Tak bisa kutolak padahal berpuluh puluh ribu sel waras dalam tubuhku memberontak. Aku menundukkan kepala. Lesu dan ingin menangis. Ega yang tadinya telah memberikan ultimatum, melihatku seperti ini mulai merasa bersalah.
“Ran, gue tau kalo sikap gue terlalu keras ke elo. Tapi, ini semua adalah jalannya. Solusi dari semua rasa penat, beban dan masalah-masalah elo. Udah cukup dengan percobaan bunuh diri. Udah cukup dengan elo selalu menangis diam-diam. Udah cukup juga elo selalu tertawa, tampak bahagia didepan orang lain padahal diri elo sakit. Merana. Udah cukup dengan itu semua, Ran! Plis, dengerin sekali aja nasehat gue. Plis, Ran… Gue mau elo dapat kebahagiaan yang selama ini elo cari. Gue mau elo tersenyum tanpa ada rasa sakit. Udah cukup juga elo nyalahin orang yang selalu nyelamatin elo saat elo bunuh diri. Gue cuman mau elo tersenyum nantinya. ”
Ia membelai rambutku dengan lembut. Mencurahkan perhatiannya yang selama ini bagiku adalah kesia-siaan belaka. Aku mengenalnya sejak masih berumur 5 tahun sampai umur sekarang ini, 18 tahun. Aku tak kuasa menahan butiran kristal-kristal air ini, dalam waktu 10 detik membuat tangisanku kian meledak.
“Ga, gue tau itu semua. Tapi, kalo elo kasih gue kartu nama ini sama aja elo anggep gue itu gila. GILA, Ga! GILA, GA!!!”
Terpampang ekspresi kaget diwajahnya. Terlihat wajah bersalah yang memelas, mencoba menunjukkan perhatiannya terhadapku. “Sori, Ran. Gue enggak bermaksud begitu. Tapi, gue mohon elo coba untuk datang ke klinik ini. Kalo elo enggak cocok yah gue enggak bakalan complain lagi. Gue janji. Sumpah. Suer!!!!” Ia tersenyum manis sembari jati telunjuk dan jari manis di jemarinya membentuk huruf V.
Ucapan mantap Ega membuatku sedikit tersadar walau beribu sel mencoba memberontak. Nyatanya, hari ini, detik ini aku berada di tempat yang Ega benar-benar harapkan. Sebuah tempat yang memang untuk orang-orang yang merasa dirinya berada dalam jurang rasional.
“Rana Mandalawangi...”
“.......”
“Rana Mandalawangi...”
“.......”
“Saudari Rana Mandalawangi...” Panggilan tegas wanita setengah baya yang berpakaian kemeja pink tersebut membuatku kembali ke alam sadar ini. Dengan ragu aku melangkahkan kaki menuju pintu yang sedari tadi ku pandangi.
Gagang pintu kupegang erat dengan kelima jemari tangan kananku, daun pintu mulai terbuka perlahan. Kudorong perlahan-lahan sampai setengah dari tubuhku mulai masuk ke dalam ruangan. Ruangan terlihat kosong. Semuanya tampak putih dimataku. Kosong.
Aku melangkahkan kaki satu demi satu dan menuju ke sebuah bangku kosong. Perlahan aku menempatkan bagian tubuh bawahku dengan posisi senyaman mungkin dan menyandarkan bahu ini ke kursi. Aku menunggunya, sang dokter untuk muncul. Tiba-tiba aku tersenyum. Bukan senyum lebar dengan kebahagiaan di dalamnya, tapi seutas senyum yang aneh. Aku berada di bangku pasien. PASIEN? Pasien apakah? Apakah pasien sakit jiwa? Dengan tokoh utama yang sedang duduk dalam ruangan ini. Dan itu adalah aku, sebagai sang pasien.
***
Lima menit berlalu tanpa kepastian. Aku terdiam. Berpikir keras dan mencoba mencerna sel-sel dari kewarasanku. Ini semua lelucon. Lelucon. Tempat ini juga adalah lelucon. Terlebih lagi aku yang dengan sukarela berada di tempat ini juga adalah lelucon. Semuanya lelucon. Lelucon menyedihkan. Aku menutup wajahku. Sedih yang benar-benar menyedihkan.
Aku dibiarkan sendiri di dalam ruangan 4 x 6 ini. Mengamati sekelilingku yang ku rasa semua warnanya menjadi putih. Tak ada warna lain. Terdengar suara pintu dibuka dari belakangku. Aku menoleh. Seorang perempuan setengah baya menyapaku ramah.
“ Rana yah... Aku Ane Syaihuna. Tapi panggil saja Ane, “ia menjulurkan tangannya dan mengajakku berjabat tangan.
Aku tersenyum tipis sambil menjabat tangannya. Tangan yang halus, pikirku.
Ia tersenyum melihatku sedikit linglung.
“Kenapa? Enggak usah takut lagi! Anggep aja aku ini temanmu.” Ia mencoba menggenggam tanganku. Aku menepisnya dengan tatapan sinis. Ia memandangku lekat, mencoba mencari arti dari tepisan tanganku.
“Ayo, kita mulai percakapan kita. Ehm... mulai dari mana yah..”ia melirikku sejenak sambil membolak balikkan kertas, mungkin biodataku sebagai pasien. Entah siapa yang mengisi biodata tersebut.
“Kita mulai dengan kesukaan kamu, bagaimana?”
“......”
“Apa yang paling kamu suka?”
“.....”
Aku rasa aku terdiam sangat lama sampai akhirnya ia menghela napas panjang. Sel-sel memori-ku mengajakku menari-nari menuju masa lalu. Bernostalgia dengan pertanyaan tersebut. Pertanyaan simple tapi bermakna dalam sekali dan langsung dapat menusukku tepat di jantung.
“Oke, kalau enggak mau mulai dari kesukaan, kita ganti aja topiknya. Gimana?” tentu saja itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. “Ehm... apa yah...” ia masih mencoba menarik perhatianku di dalam ruangan ini.
Entah muncul perasaan aneh yang menyeruak dan aku ingin ia mengetahuinya. “Gue suka warna darah. Merah membara. “
Ia tersenyum, tanpa menunjukkan ekspresi terkejut. Seperti telah familiar dengan hal seperti ini.
“Lalu... apa lagi ?”
“Kematian.”
“Ehm... begitu yah...” ia tersenyum. Ia menulis sesuatu-entah apa-dengan serius sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya.
“Pernah merasakan kematian, dok?”aku meliriknya tajam. Ia terkejut dan berhenti menulis. Ia menggeleng lalu berkata, “Belum. Mungkin belum. Tapi suatu hari nanti pasti terjadi. Iya kan?!”
Aku tertawa kecil. Belum???Rasa kematian sangat menyenangkan dan aku sudah merasakannya. Bahkan sering. Sel-sel memoriku membawaku hanyut ke dalam peristiwa-peristiwa lalu, merah membara. Peristiwa bersejarah dengan kematian. Entah berapa kali aku telah melakukannya. Tak terhitung.
“Sepertinya, pertemuan kita berjalan dengan baik. Besok jam 3 sore kita ketemu lagi disini, oke!!!” ia menunggu persetujuanku. Aku tak menggubrisnya, masih larut dengan kenangan terindah bersama kematian.
“Rana...”
Ia memanggilku dan bagai hentakan tajam, masa kini menarikku kembali. Aku tersadar dari lamunan kosong.
“Sori, kayaknya ini semua salah. Klinik ini dan kehadiran gue disini. Semuanya salah, dok. Kayaknya semua SALAH!! Sori dok...”
Aku bergegas pergi. Langkah-langkah ini bergesa ingin segera pergi dari tempat ini, ke tempat yang memang seharusnya aku berada dan ini semua rasanya adalah kesalahan.
Ia terhenyak, tak bersuara. Masih terpancar wajah kagetnya saat aku menutup pintu ruangan. Masa bodoh. Aku tak perduli. Kepalaku terasa tujuh keliling. Aku lelah dengan ini semua.
***
Ruangan ini terasa gelap dan tak bernyawa. Tak ada tanda-tanda kehidupan disini. Tak ada satu makhluk pun yang ingin menempatinya. Kasur empuk ber-sprei putih tampak sangat kusut. Buku bertebaran dimana-kemana. Ruangan ini tampak sumpek, tak ada napas kehidupan. Aku menghempaskan diri di sofa putih. Mencoba memejamkan mata tapi tak kuasa jua. Ternyata ia terus meronta meminta untuk terjaga. Aku bangun dan menuju cermin panjang di sudut ruangan ini. Mengamati diri yang sangat acak-acakan dan kusut. Bagian di bawah kelopak mata tampak cekung dan kehitaman. Entah sudah berapa malam aku tak terlelap.
Tiba-tiba aku teringat suatu benda. Benda favorit-ku. Aku bergegas mengambilnya dan ketika ku pegang ada sejuta perasaan mendesir, senang. Hangat dan sangat nyaman. Aku mengelusnya lembut layaknya mengelus anak kucing. Bagian kayunya aku pegang erat sebagai pegangan. Bagian selanjutnya adalah bagian yang kusukai. Mengkilap dan sangat runcing. Ketika menyentuhnya adalah sebuah keindahan, ketika kulit luatku perlahan mengelusnya.
Aku tersenyum, bagaimana kalau menyentuh kulit dalamku, bahkan lebih dalam lagi. Mungkin sampai menyentuh urat nadi. Pasti seperti goresan seni, karya sang maestro. Perlahan namun pasti, segera benda tajam itu ingin menyentuh kulitku. Kulit mulus ini akan segera tergores dan mengeluarkan warna indah, warna yang menyala. Dan aku tak perduli.
Aku tersenyum kian lebar, ketika benda tajam tersebut menyentuh urat nadiku dan seketika pula kurasakan detik ini, napasku terasa sangat berat dan terengah-engah. Alam bawah sadarku menerawang jauh ke langit menuju atmosfer dan menuju alam metafisik. Aku terasa melayang. Rasanya sangat ringan dan BEBAS. Bebas? Aku tertawa dalam hati. Mungkin perasaan bebas yang sangat ku perlukan sejak dahulu. Rasa ingin bebas. Dan semua ini seperti kapas, ringan untuk melangkah dan terbang tinggi.
Aku melihat di bawahku rasanya seperti ada pesta warna, penuh dengan warna merah. Entah warna tersebut berasal dari mana. Aku tak perduli.
Aku semakin terbang tinggi. Seperti kapas. Bebas. Melupakan antara alam rasional dan metafisik. Persetan dengan semuanya!
***
“Ga, elo tau gak beda antara alam nyata dan alam bawah sadar kita?”
“.....”
“Sebenarnya beda antara alam rasional dan alam metafisik itu tipis sekali. Sekali benang, hampir tak bisa dibedakan. Sama saja seperti beda antara benci dan cinta. Hanya sepersekian detik saja itu semua dapat di putar balik 180 0. Karena semua itu hanya setipis benang. “
Ia menatapku aneh. Tapi Ega tetap dalam kebisuannya.
“Elo tau gak apa yang paling gue suka?”
Ega menggelengkan kepala.
“Gue suka warna darah. Merah. Rasanya warna yang amat sangat berani. Berani terus berada dalam dunia fana ini dan berani untuk segera menuju kehidupan selanjutnya yaitu kematian. Makanya gue pengen mati di tangan gue sendiri. Gak ada yang boleh tentuin hidup gue berapa lama di dunia ini. Dan pada saat itu tiba, gue pengen elo yang pertama kali melihat gue dalam keadaan seperti itu.”
Ia terkejut setengah mati mendengar jawabanku. “Gila elo, Ran. Gak lucu ah....” gepalan tangannya meninjuku dengan hentakan kosong.
Sedangkan aku sedang tersenyum bahagia, menunggu saat itu tiba.
***
Senja hari ini sangat indah. Lembayung keemasan tersenyum manis di ufuk barat. Membentuk siluet kehidupan yang mulai lelah. Langit yang akan segera menuju kelam. Senja itu pula yang menemani kepergianku.
Klinik Jiwa, Ane Syaihuna, M.P, Si
Jl. Sumatera Barat No. 20
Jakarta Timur
021- 780 567 324
Lembaran kartu nama itu masih kugenggam erat. Sekali lagi aku meremas-remasnya sampai tak terlihat bentuknya. Aku mengernyitkan alis, rasanya pusing sekali. Aku memijit-mijit kening kepalaku dan menyadarkan bahu ini kepada pundak kursi. Kedua kelopak mata ini berontak ingin memejamkan mata. Ufff, God… aku tak segila ini sampai harus kemari. Akal sehatku mulai mengeluh, mencoba memberikan pembelaan diri terhadap alam bawah sadarku.
Kalau merasa tak gila kenapa selama ini seperti orang gila? Tak bisa membedakan antara alam realitas dan alam metafisik? Kemana akal sehatmu? Kau selalu membuat pembelaan diri padahal dirimulah yang SAKIT!!! SAKIT dan HARUS BEROBAT! Terima kenyataan itu sobat!!!
Alam bawah sadarku kian membuat runtutan pertanyaan, membuat diriku terasa kalah. Skak Mat. Mati rasa dalam seketika. Tambah satu poin lagi yang disebutkan oleh alam tak sadarku.
Kata terakhir yang membuatku tersentak hebat adalah kata SOBAT. Sobat dari semua kegilaan ini. Aku tersenyum tipis, menertawakan diriku ini. Sejak kapan aku telah menjadi sobatnya. Sejak kapan???
Air mata semakin tak terelakkan, keluar tanpa permisi. Aku kian terhenyak dengan semua kegilaan ini dan kata Sobat. Aku merasa sendiri, tak punya siapa-siapa dan tak ada volunteer yang mau menemaniku. Sepi.
Aku menutup wajahku dengan telapak tangan. Aku akan kalap. Tidak! Tidak boleh kalap apalagi di tempat seperti ini. Seketika aku teringat akan kejadian semalam, obrolan kecil dengan sahabatku yang pada akhirnya ia kekeuh memaksaku harus ke tempat seperti ini.
“Ran, elo harus ke tempat ini. Ke psikiater. Jangan khawatir tentang dokternya. Dia kenalan bokap gue. Bisa dipercaya! Gue jamin, Ran! Pokoknya elo HARUS KESANA!!! HARUS!!!!”
Aku masih terdiam seribu bahasa lisan dan tubuh. Masih hanyut dalam pikiran alam bawah sadarku. Seketika ia mengagetkanku dengan ultimatum yang bagaikan perintah bagiku. Tak bisa kutolak padahal berpuluh puluh ribu sel waras dalam tubuhku memberontak. Aku menundukkan kepala. Lesu dan ingin menangis. Ega yang tadinya telah memberikan ultimatum, melihatku seperti ini mulai merasa bersalah.
“Ran, gue tau kalo sikap gue terlalu keras ke elo. Tapi, ini semua adalah jalannya. Solusi dari semua rasa penat, beban dan masalah-masalah elo. Udah cukup dengan percobaan bunuh diri. Udah cukup dengan elo selalu menangis diam-diam. Udah cukup juga elo selalu tertawa, tampak bahagia didepan orang lain padahal diri elo sakit. Merana. Udah cukup dengan itu semua, Ran! Plis, dengerin sekali aja nasehat gue. Plis, Ran… Gue mau elo dapat kebahagiaan yang selama ini elo cari. Gue mau elo tersenyum tanpa ada rasa sakit. Udah cukup juga elo nyalahin orang yang selalu nyelamatin elo saat elo bunuh diri. Gue cuman mau elo tersenyum nantinya. ”
Ia membelai rambutku dengan lembut. Mencurahkan perhatiannya yang selama ini bagiku adalah kesia-siaan belaka. Aku mengenalnya sejak masih berumur 5 tahun sampai umur sekarang ini, 18 tahun. Aku tak kuasa menahan butiran kristal-kristal air ini, dalam waktu 10 detik membuat tangisanku kian meledak.
“Ga, gue tau itu semua. Tapi, kalo elo kasih gue kartu nama ini sama aja elo anggep gue itu gila. GILA, Ga! GILA, GA!!!”
Terpampang ekspresi kaget diwajahnya. Terlihat wajah bersalah yang memelas, mencoba menunjukkan perhatiannya terhadapku. “Sori, Ran. Gue enggak bermaksud begitu. Tapi, gue mohon elo coba untuk datang ke klinik ini. Kalo elo enggak cocok yah gue enggak bakalan complain lagi. Gue janji. Sumpah. Suer!!!!” Ia tersenyum manis sembari jati telunjuk dan jari manis di jemarinya membentuk huruf V.
Ucapan mantap Ega membuatku sedikit tersadar walau beribu sel mencoba memberontak. Nyatanya, hari ini, detik ini aku berada di tempat yang Ega benar-benar harapkan. Sebuah tempat yang memang untuk orang-orang yang merasa dirinya berada dalam jurang rasional.
“Rana Mandalawangi...”
“.......”
“Rana Mandalawangi...”
“.......”
“Saudari Rana Mandalawangi...” Panggilan tegas wanita setengah baya yang berpakaian kemeja pink tersebut membuatku kembali ke alam sadar ini. Dengan ragu aku melangkahkan kaki menuju pintu yang sedari tadi ku pandangi.
Gagang pintu kupegang erat dengan kelima jemari tangan kananku, daun pintu mulai terbuka perlahan. Kudorong perlahan-lahan sampai setengah dari tubuhku mulai masuk ke dalam ruangan. Ruangan terlihat kosong. Semuanya tampak putih dimataku. Kosong.
Aku melangkahkan kaki satu demi satu dan menuju ke sebuah bangku kosong. Perlahan aku menempatkan bagian tubuh bawahku dengan posisi senyaman mungkin dan menyandarkan bahu ini ke kursi. Aku menunggunya, sang dokter untuk muncul. Tiba-tiba aku tersenyum. Bukan senyum lebar dengan kebahagiaan di dalamnya, tapi seutas senyum yang aneh. Aku berada di bangku pasien. PASIEN? Pasien apakah? Apakah pasien sakit jiwa? Dengan tokoh utama yang sedang duduk dalam ruangan ini. Dan itu adalah aku, sebagai sang pasien.
***
Lima menit berlalu tanpa kepastian. Aku terdiam. Berpikir keras dan mencoba mencerna sel-sel dari kewarasanku. Ini semua lelucon. Lelucon. Tempat ini juga adalah lelucon. Terlebih lagi aku yang dengan sukarela berada di tempat ini juga adalah lelucon. Semuanya lelucon. Lelucon menyedihkan. Aku menutup wajahku. Sedih yang benar-benar menyedihkan.
Aku dibiarkan sendiri di dalam ruangan 4 x 6 ini. Mengamati sekelilingku yang ku rasa semua warnanya menjadi putih. Tak ada warna lain. Terdengar suara pintu dibuka dari belakangku. Aku menoleh. Seorang perempuan setengah baya menyapaku ramah.
“ Rana yah... Aku Ane Syaihuna. Tapi panggil saja Ane, “ia menjulurkan tangannya dan mengajakku berjabat tangan.
Aku tersenyum tipis sambil menjabat tangannya. Tangan yang halus, pikirku.
Ia tersenyum melihatku sedikit linglung.
“Kenapa? Enggak usah takut lagi! Anggep aja aku ini temanmu.” Ia mencoba menggenggam tanganku. Aku menepisnya dengan tatapan sinis. Ia memandangku lekat, mencoba mencari arti dari tepisan tanganku.
“Ayo, kita mulai percakapan kita. Ehm... mulai dari mana yah..”ia melirikku sejenak sambil membolak balikkan kertas, mungkin biodataku sebagai pasien. Entah siapa yang mengisi biodata tersebut.
“Kita mulai dengan kesukaan kamu, bagaimana?”
“......”
“Apa yang paling kamu suka?”
“.....”
Aku rasa aku terdiam sangat lama sampai akhirnya ia menghela napas panjang. Sel-sel memori-ku mengajakku menari-nari menuju masa lalu. Bernostalgia dengan pertanyaan tersebut. Pertanyaan simple tapi bermakna dalam sekali dan langsung dapat menusukku tepat di jantung.
“Oke, kalau enggak mau mulai dari kesukaan, kita ganti aja topiknya. Gimana?” tentu saja itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. “Ehm... apa yah...” ia masih mencoba menarik perhatianku di dalam ruangan ini.
Entah muncul perasaan aneh yang menyeruak dan aku ingin ia mengetahuinya. “Gue suka warna darah. Merah membara. “
Ia tersenyum, tanpa menunjukkan ekspresi terkejut. Seperti telah familiar dengan hal seperti ini.
“Lalu... apa lagi ?”
“Kematian.”
“Ehm... begitu yah...” ia tersenyum. Ia menulis sesuatu-entah apa-dengan serius sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya.
“Pernah merasakan kematian, dok?”aku meliriknya tajam. Ia terkejut dan berhenti menulis. Ia menggeleng lalu berkata, “Belum. Mungkin belum. Tapi suatu hari nanti pasti terjadi. Iya kan?!”
Aku tertawa kecil. Belum???Rasa kematian sangat menyenangkan dan aku sudah merasakannya. Bahkan sering. Sel-sel memoriku membawaku hanyut ke dalam peristiwa-peristiwa lalu, merah membara. Peristiwa bersejarah dengan kematian. Entah berapa kali aku telah melakukannya. Tak terhitung.
“Sepertinya, pertemuan kita berjalan dengan baik. Besok jam 3 sore kita ketemu lagi disini, oke!!!” ia menunggu persetujuanku. Aku tak menggubrisnya, masih larut dengan kenangan terindah bersama kematian.
“Rana...”
Ia memanggilku dan bagai hentakan tajam, masa kini menarikku kembali. Aku tersadar dari lamunan kosong.
“Sori, kayaknya ini semua salah. Klinik ini dan kehadiran gue disini. Semuanya salah, dok. Kayaknya semua SALAH!! Sori dok...”
Aku bergegas pergi. Langkah-langkah ini bergesa ingin segera pergi dari tempat ini, ke tempat yang memang seharusnya aku berada dan ini semua rasanya adalah kesalahan.
Ia terhenyak, tak bersuara. Masih terpancar wajah kagetnya saat aku menutup pintu ruangan. Masa bodoh. Aku tak perduli. Kepalaku terasa tujuh keliling. Aku lelah dengan ini semua.
***
Ruangan ini terasa gelap dan tak bernyawa. Tak ada tanda-tanda kehidupan disini. Tak ada satu makhluk pun yang ingin menempatinya. Kasur empuk ber-sprei putih tampak sangat kusut. Buku bertebaran dimana-kemana. Ruangan ini tampak sumpek, tak ada napas kehidupan. Aku menghempaskan diri di sofa putih. Mencoba memejamkan mata tapi tak kuasa jua. Ternyata ia terus meronta meminta untuk terjaga. Aku bangun dan menuju cermin panjang di sudut ruangan ini. Mengamati diri yang sangat acak-acakan dan kusut. Bagian di bawah kelopak mata tampak cekung dan kehitaman. Entah sudah berapa malam aku tak terlelap.
Tiba-tiba aku teringat suatu benda. Benda favorit-ku. Aku bergegas mengambilnya dan ketika ku pegang ada sejuta perasaan mendesir, senang. Hangat dan sangat nyaman. Aku mengelusnya lembut layaknya mengelus anak kucing. Bagian kayunya aku pegang erat sebagai pegangan. Bagian selanjutnya adalah bagian yang kusukai. Mengkilap dan sangat runcing. Ketika menyentuhnya adalah sebuah keindahan, ketika kulit luatku perlahan mengelusnya.
Aku tersenyum, bagaimana kalau menyentuh kulit dalamku, bahkan lebih dalam lagi. Mungkin sampai menyentuh urat nadi. Pasti seperti goresan seni, karya sang maestro. Perlahan namun pasti, segera benda tajam itu ingin menyentuh kulitku. Kulit mulus ini akan segera tergores dan mengeluarkan warna indah, warna yang menyala. Dan aku tak perduli.
Aku tersenyum kian lebar, ketika benda tajam tersebut menyentuh urat nadiku dan seketika pula kurasakan detik ini, napasku terasa sangat berat dan terengah-engah. Alam bawah sadarku menerawang jauh ke langit menuju atmosfer dan menuju alam metafisik. Aku terasa melayang. Rasanya sangat ringan dan BEBAS. Bebas? Aku tertawa dalam hati. Mungkin perasaan bebas yang sangat ku perlukan sejak dahulu. Rasa ingin bebas. Dan semua ini seperti kapas, ringan untuk melangkah dan terbang tinggi.
Aku melihat di bawahku rasanya seperti ada pesta warna, penuh dengan warna merah. Entah warna tersebut berasal dari mana. Aku tak perduli.
Aku semakin terbang tinggi. Seperti kapas. Bebas. Melupakan antara alam rasional dan metafisik. Persetan dengan semuanya!
***
“Ga, elo tau gak beda antara alam nyata dan alam bawah sadar kita?”
“.....”
“Sebenarnya beda antara alam rasional dan alam metafisik itu tipis sekali. Sekali benang, hampir tak bisa dibedakan. Sama saja seperti beda antara benci dan cinta. Hanya sepersekian detik saja itu semua dapat di putar balik 180 0. Karena semua itu hanya setipis benang. “
Ia menatapku aneh. Tapi Ega tetap dalam kebisuannya.
“Elo tau gak apa yang paling gue suka?”
Ega menggelengkan kepala.
“Gue suka warna darah. Merah. Rasanya warna yang amat sangat berani. Berani terus berada dalam dunia fana ini dan berani untuk segera menuju kehidupan selanjutnya yaitu kematian. Makanya gue pengen mati di tangan gue sendiri. Gak ada yang boleh tentuin hidup gue berapa lama di dunia ini. Dan pada saat itu tiba, gue pengen elo yang pertama kali melihat gue dalam keadaan seperti itu.”
Ia terkejut setengah mati mendengar jawabanku. “Gila elo, Ran. Gak lucu ah....” gepalan tangannya meninjuku dengan hentakan kosong.
Sedangkan aku sedang tersenyum bahagia, menunggu saat itu tiba.
***
Senja hari ini sangat indah. Lembayung keemasan tersenyum manis di ufuk barat. Membentuk siluet kehidupan yang mulai lelah. Langit yang akan segera menuju kelam. Senja itu pula yang menemani kepergianku.
SANG PRIMADONA
“Ufff…hujan lagi!” Gerutuku didalam hati. Sudah 3 hari berturut-turut hujan selalu turun. Tanpa menyapa dan permisi terlebih dahulu. Dengan perasaan kesal, aku mempercepat langkah kakiku. Hari ini adalah hari Rabu. Entah mengapa, setiap pagi, hujan senantiasa turun di सात semua orang sedang sibuk-sibuknya memulai aktivitas pagi।
Bagiku, hujan datang ketika aku memulai aktivitas keseharian adalah sebuah kesialan। Ditambah pula dengan kebiasaanku yang serba bangun siang. Ditambah lagi jadwal semesterku selama 4 hari dalam 1 minggu, aku masuk pada jam pertama dan mayoritas dosennya adalah dosen killer dan ontime.
Aku melirik jam tanganku। Pkl. 07.00 tepat. Aku berpikir keras, memikirkan cara paling tepat supaya tidak telat. Aku memaki diriku sendiri, “Gara-gara bangun kesiangan.” Bahkan, mamaku juga sempat-sempatnya memberikan siraman rohani pagi yang panjang seperti rel kereta api, “Salah siapa! Kan sudah dibangunin berkali-kali sama mama. Terus, siapa suruh semalam ngetik tugas sampai jam 2 malam. Sekarang, yang disalahin mama lagi……,” dan beribu kata-kata pedas lainnya yang menjadi siraman rohani pengganti sarapan tadi.
Pagi ini mentari tampak malu-malu menunjukkan jati darinya। Justru dengan tersenyum lebar, awan pekat disertai rintik-rintik hujan deras semakin membuat mentari malas untuk bangun. Baru selama 1 jam hujan membasahi bumi ini saja, kemacetan lalu lintas sudah terlihat.
“Bang, kiri, bang!” Aku memberhentikan laju angkot Depok-Kp। Rambutan. Setelah memberikan uang kertas seribuan dan uang logam 500 rupiah aku langsung menyeberang. Walau keadaan cuaca tak bersahabat tapi aktivitas para pekerja kantor dan pelajar tampak terlihat. Di sepanjang trotoar Pasar Rebo dan Jalan Baru Kp. Rambutan tampak sangat ramai. Manusia dengan beribu aktivitasnya di pagi hari. Bahkan ditengah hujan deras, tak menyurutkan semangat mereka untuk memulai aktivitas. Walaupun dengan membawa payung. Begitu pun denganku.
Aku melirik jam tanganku lagi। Oh, My God! Lima menit telah berlalu begitu saja tanpa ada hasil apa pun. Bahkan Sang Primadona belum juga terlihat ujung pangkal hidungnya. Padahal sudah banyak para penggemar yang telah menunggu lama.
Lihat saja, para manusia ini sama-sama melirik jam tangan dan kedua kelopak mata mereka tertuju pada satu objek yang sama। Di bibir mereka bergumam ucapan kesal dan rasa cemas. Kening semakin mengkerut. Objek penglihatan mereka tertuju pada satu titik yang sama, yang belum jua muncul sedari tadi. Di ufuk barat, banyak pemilik kedua bola mata yang semakin gila mencari-cari dengan giatnya. Walau tak kunjung memberikan hasil.
Aku pun semakin cemas। Sepuluh menit berlalu. Hujan yang sedari tadi sangat deras mulai terlihat letih dan mencoba menyisakan rintiknya untuk esok hari. Awan pekat perlahan-lahan mulai berganti jalur, berganti dengan awan putih laksana gula pasir halus. Dimana-mana jalan dan aspal telah tergenangi oleh air hujan, sama rata. Metromini berwarna kuning, yang menjadi objek penglihatan kami belum juga muncul.
Aku melirik kepada salah seorang wanita berseragam kantor dan disebelahnya lagi terdapat bapak setengah baya। Mereka sama-sama memancarkan raut wajah cemas, sebentar-sebentar melirik jam tangan. Ada senyum geli dan lucu melihat adegan seperti ini setiap pagi. Hampir setiap hari adegan seperti ini aku lihat, khususnya bila hujan tiba dan setelah hujan reda. Bukan maksudku untuk menertawakan mereka, tapi hanya saja ini adalah salah satu aktivitas manusia yang mengasyikkan untuk ditertawakan.
Ternyata, yang ditunggu pun tiba। Sebuah metromini berwarna kuning muncul dari arah Terminal Kp. Rambutan. Bibirku-pun langsung tersenyum bahagia. Seketika, aku melirik ke arah para penggemar Sang Primadona, mereka melakukan hal yang sama denganku. Langkah kaki semakin dipercepat, kedua mata tertuju kepada objek yang sama. Laju darah beserta adrenalin semakin meningkat, perlahan-lahan namun pasti. Stimulus otak memerintahkan kaki untuk bergerak dengan cepat. Bergerak secepat mungkin. Langkah pun berubah, langkah kaki dari yang seharusnya satu langkah telah menjadi dua langkah.
Laksana para karyawan yang ingin mengambil gaji, mereka saling berebut langkah. Tak mau kalah dengan mereka, aku pun semakin mempercepat langkah. Bisa dibilang, pemandangan ini sama seperti antrian orang-orang yang ingin menaiki kereta api ekonomi jurusan Bogor-Jakarta (Kota). Setiap pagi saat jam keberangkatan dan pulang kantor, setiap orang berebut tempat untuk menaikinya, dengan tujuan yang sama tidak ingin bergelantungan di pinggir badan kereta.
Selama beberapa detik, semua mata tertuju kepada Sang Primadona, metromini berwarna kuning tanpa berkedip sedikit pun। Perlahan-lahan ia mulai mendekat dan menghentikan laju jalannya. Di tepi tubuh Sang Primadona, kami saling berebut menaiki. Dengan sigap, kami beradu sikut dan kaki. Didalam, sudah terlihat sebagian badan Sang Primadona telah terisi oleh para penumpang.
Dengan tatapan tajam dan menusuk, mereka melihat adegan kejam nan mengasyikkan tersebut। Akhirnya, dengan perjuangan hebat, sikut kanan sikut kiri, aku berhasil juga masuk kedalam tubuh Sang Primadona. Seketika tubuhnya pun telah terpenuhi oleh sesak manusia. Aku menoleh keluar jendela, terdapat pemandangan raut wajah kekecewaan para penggemar yang tidak mendapatkan ruang didalam tubuhnya.
Aku memperkirakan didalam tubuhnya telah terisi sebanyak kurang lebih 50 penumpang, setengah dari quota sebenarnya। Bagaimana tidak sesak, hampir tidak ada ruang untuk bergerak sedikit pun. Diantara para penumpang hampir saling temu pinggul dan pundak. Tak bisa bergerak sedikit pun. Yang terpenting adalah sang induk dari tubuh manusia masih bisa terlihat dan indera penciuman masih berfungsi untuk bernafas.
Setelah tubuh Sang Primadona terisi penuh oleh jejalnya manusia। Dengan cekatan, sang sopir menarik gas dan kian mempercepat laju kecepatannya apalagi ketika memasuki gerbang tol Pasar Rebo. Dengan sigap sang kondektur meminta bayaran. Laksana tubuh dan tubuh slim, ia berhasil menerobos setiap inci ruang kosong dalam tubuh Sang Primadona. Rasanya, pemandangan tersebut seperti didalam iklan Natur Slim saja. Setiap ada ruang kosong ia berhasil menyelipkan tubuhnya.
Adegan bisu didalam Sang Primadona। Raut wajah penumpang terlihat lucu, bibir terkatup, bisu, entah memikirkan apa. Sepasang mata menerawang keatas langit-langit Sang Primadona. Laju Sang Primadona kian cepat, kira-kira 80/km per jam, tanpa ada gerakan menginjak pedal rem sedikit pun. Tanpa perintah atau isyarat apa-pun tangan kanan para penumpang memegang pegangan besi diatas atau pada pegangan besi di bangku tempat duduk.
Raut wajah para penumpang terlihat gelisah। Aspal jalan tol masih tergenangi oleh air hujan pagi ini dan oleh hari-hari sebelumnya. Tanpa memerdulikan keselamatan kami, sang sopir makin menambah kecepatannya. Para penumpang ada yang melirik kearah sopir dengan tatapan jengkel, ada juga yang semakin mengeratkan pegangannya.
Aku melihat seorang ibu, berumur kira-kira 30 tahun keatas, membawa tas besar dan menggendong bayi। Tangan sebelah kanannya memegang tas besar, sebelah kirinya menggendong bayi dan tanpa memegang pegangan apa pun. Lalu, aku menengok kesamping kiri, tidak begitu jauh dari posisiku berdiri. Terlihat seorang nenek, sebaya dengan nenekku yang telah berumur setengah abad. Berpakaian layaknya ibu-ibu yang ingin pergi mengaji. Tertutup aurat dan mengenakan jilbab lusuh diatas kepalanya, semuanya tampak serasi berwarna hijau muda. Jika sang pengendara Primadona menaiki kecepatan laju kecepatannya, bibir nenek tersebut tidak lepas dari istigfar.
Anehnya, tidak ada seorang pun didalam tubuh Sang Primadona yang mempunyai rasa iba untuk menawarkan tempat duduk. Semuanya asyik dalam kesibukan masing-masing, ada yang tertidur dan ada pula yang pura-pura tidak melihat. Tiba-tiba saja, Sang Primadona menginjak pedal gas rem. Seketika pun, para penumpang tersentak dan semakin mengecangkan pegangan. Ada pula yang menggerutu kesal dan memaki sang sopir. Tapi, sang sopir dengan santai dan dengan rasa tak bersalah meneruskan perjalanan bahkan dalam kecepatan yang seperti tadi.
Aku berpikir dan sempat terlintas sebuah pikiran nakal, Seandainya, selama perjalanan Tol Pasar Rebo sampai Tol Pondok Pinang Sang Primadona mengalami kecelakaan yang mengakibatkan para penumpang banyak yang tewas dan terluka, pasti Pemda setempat akan memikirkan cara terjitu untuk mengatasi bahkan mengurangi kecelakaan tersebut supaya tidak terjadi lagi।
Aku tersenyum geli, memikirkan ide bodoh nan nakal yang terlintas di benakku. Sebuah ide irrasional dan tentu aku tidak ingin hal tersebut terjadi. Lima menit menuju setengah delapan. Aku mengambil telepon selular pink-ku dan menulis short message.
Mi, kalo dosen’a dh dateng mc gw ya, gw msh di dlm mobil nich!blz!!!
Selesai menulis short message, aku memencet tombol sebelah kiri Options, Send lalu Search. Jempol-ku masih mencari keberadaan nama Mia didalam kontak telepon selularku, setelah ditemukan lalu aku memencet tanda Ok dan Yes.
Berselang sepuluh menit kemudian, aku telah sampai di tempat tujuan perjalanan pagi, kampus tercinta. Aku mempercepat langkah kaki supaya segera sampai ke tempat ruang kuliah.
***
Hari Kamis, hujan kembali turun layaknya kemarin. Aku mempercepat langkah. Lagi dan lagi aku telat bangun. Sesampainya di Pasar Rebo, rintik hujan masih saja deras.
Seorang loper Koran meneriakkan kata-kata yang membuatku tersentak। “Koran…. koran…Koran…. masih hangat…. masih hangat…॥ berita hangat dan terbaru. Metromini 510 jurusan Kp. Rambutan- Ciputat kemarin sore kecelakaan di tol Pondok Pinang. Ayo…Ayo…. masih hangat…..masih hangat….” ditengah hujan deras dan tubuh dibasahi oleh hujan, dengan semangat berkobar loper koran tersebut menjajakan dagangannya layaknya gorengan yang masih hangat.
Aku berhenti melangkah dan membalikkan badan, “Mas! korannya satu!” teriakku dengan lantang.
Loper koran tersebut langsung menengok kearahku dan menghampiriku, “Koran?! Koran yang mana, mbak?”
“Itu! Koran yang ada berita kecelakaan di 510, “tunjukku kepada salah satu koran yang terbungkus plastik putih. Ia mengambil salah satu koran yang sedang dipeganginya.
“Oh, yang ini!” ia mengambil koran tersebut dan memberikannya kepadaku. Aku mengambil uang kertas seribuan dua dari kantongku dan memberikan kepadanya.
“Uh, mbak gak bakal rugi deh beli koran ini। Abisnya ini berita lagi hangat-hangatnya. Banyak yang pada beli. Kan selama ini di 510 jarang ada kecelakaan, pokoknya hampir gak ada deh mbak selama ini. Pas ada uh… beritanya jadi heboh kemana-mana. Udah gitu, mbak liat sendiri kan, sekarang aja orang-orang jadi takut mau naek 510, takut kayak kemaren sore, mbak!“ujar loper tersebut dengan bersemangat.
Aku tidak mengubris perkataannya। Objek utama penglihatanku hanya kepada headline dikoran tersebut. Setelah koran tersebut berada digegamanku, tanpa mengucapkan terima kasih, aku langsung menyeberang jalan.
Langit masih saja muram, awan belum berganti suasana, angin masih terus menerus berhembus kencang, sangat lirih. Sebagian tubuhku telah terbasahi rintik-rintik hujan. Terlihat banyak orang yang menepi sekadar menghindar dari rintik hujan. Aku masuk kedalam sebuah warung kopi, yang mulai terpenuhi oleh manusia yang kebasahan. Pandanganku tidak terlepas dari headline. Dengan seksama aku membacanya.
510 MENELAN KORBAN
Jakarta, POS KOTA- Rabu kemarin sore pada pukul 17.30 WIB, terjadi kecelakaan di Jalan Tol Pondok Pinang. Kecelakaan yang tidak disangka akan terjadi akhirnya terjadi pula pada angkutan metromini 510 Jurusan Kampung Rambutan-Ciputat. Kecelakaan ini menewaskan kurang lebih 15 orang penumpang dan penumpang lainnya luka-luka. Para korban kecelakaan segera dilarikan ke Rumah Sakit Fatmawati. Diperkirakan kecelakaan ini terjadi karena laju kecepatan metromini yang melampaui batas rata-rata dan menabrak sebuah kijang Innova. Sopir didakwa menjadi tersangka penanggung jawab dari kecelakaan ini. Tapi, sopir dan kondektur tersebut ikut menjadi korban naas dari kecelakaan.
Aku menarik nafas dalam-dalam, kedua mataku menerawang entah kemana। Dadaku terasa sesak dan penuh pilu. Sang Primadona marah dan meminta korban. Ia mengeluarkan gejolak emosinya. Aku berpikir keras alasannya. Karena apa? Apakah karena tubuhnya selalu disesaki oleh quota penumpang yang tidak seharusnya? Sehingga ia merasa sesak, penuh jejal manusia Atau karena ia sudah lelah dari perjalanan hidupnya. Aku menghela napas panjang. Aku sadar sekeras apapun aku berpikir, aku tetap tak menemukan jawabnya.
Tak habis berpikir, masih terlintas untuk memikirkannya। Apakah dengan ini caranya? Walau dengan menghancurkan dirinya sendiri. Tapi Sang Primadona tetap ingin menjunjukkan amarahnya. Aku menutup wajahku dengan koran.
Lima detik kemudian, dengan tatapan kosong sepasang mataku melihat kearah puluhan manusia yang sedang berteduh di tepi ruko। Dadaku penuh sesak. Kedua mataku menerawang dengan tatapan kosong, tak tentu arah.
Langit sudah mulai terlihat awan putih, perlahan-lahan menunjukkan senyum cerahnya. Manusia yang tadinya meneduh, mulai menunggu angkutan umum. Aku masih tak percaya dengan headline yang baru saja kubaca. Lengan dan kakiku lemas tak bertenaga. Tak henti berpikir penyebabnya aku terus saja bergumam, “Sang Primadona marah!”
***
Satu tahun kemudian। Hari ini cuaca sangat cerah. Sejak adzan subuh dikumandangkan, perlahan-lahan dengan tidak malas dan malu mentari menunjukkan keperkasaannya. Ia dengan penuh bersemangat, tersenyum kepada seluruh manusia di bumi yang sedang memulai aktivitas pagi hari. Semua penjaga toko dengan senyuman membuka toko miliknya. Satu per-satu aktivitas manusia tampak terlihat dan lambat laun manusia yang ingin berangkat mencari nafkah, berangkat ke kantor atau pun yang ingin berangkat ke sekolah mulai keluar dari peraduannya.
Seperti biasa, sama dengan hari-hari lalu dan dalam kebiasaan yang belum bisa kuubah। Aku setengah berlari menyeberang jalan, mengejar waktu. Waktu yang mungkin saja belum bisa kukejar dengan langkah kakiku.
Diujung pelupuk mata, terlihat metromini berwarna kuning berdiri gagah. Aku tersenyum kepada Sang Primadona yang masih setia berada di posisinya. Walau pernah ada hari kelam nan kelabu dan penuh amarah yang sempat menghiasi kehidupannya, selama satu tahun terakhir ini. Pada sebuah kecelakaan naas yang mengakibatkan Sang Primadona beserta awak penumpangnya hancur dan terlerai berai.
Aku menaiki Sang Primadona. Masih lenggang dan belum banyak penumpang. Aku tersenyum lega dan puas, ada sebuah pemandangan baru. Di sisi kiri jalan menuju arah Pasar Rebo, Cilandak, Fatmawati dan Lebak Bulus ada sebuah pembangunan jalan. Pembangunan menuju kehidupan yang lebih baik.
Mengingat tragedi Sang Primadona satu tahun lalu, Pemda setempat memprakarsai sebuah pembangunan jalan. Kira-kira satu tahun ke depan pembangunan tersebut akan selesai. Dimana-mana akan ada Busway dan lalu lalang Transjakarta menuju arah kampusku. Mungkin, ini adalah tujuan dan harapan dari Sang Primadona, menuju kepada kehidupan yang lebih baik.
Dalam hitungan beberapa menit saja, tubuh Sang Primadona telah terisi penuh manusia। Suasana menjadi kian sesak dan sedikit oksigen yang ada. Para pekerja proyek terlihat giat dan asyik mengerjakan pekerjaannya. Dengan tubuh yang telah terbasahi keringat, mereka masih tampak bersemangat.
Mentari pagi membawa suasana hangat menyinari bumi dan makhluk didalamnya. Aku semakin melebarkan senyumku. Senyum yang benar-benar lebar dan manis kepada Sang Primadona dan pembangunan trayek busway.
Langganan:
Postingan (Atom)